Showing posts with label TEORI. Show all posts
TEORI
1. INTEGRASI PENGEMBANGAN BARU DAN KONTRIBUSI UNTUK KEKHASAN (INTEGRATE NEW DEVELOPMENT AND CONTRIBUTE TO DISTINCTIVENESS)
Mengidentifikasi peran situs dalam struktur perkotaan dengan rancangan baru yang besar ke dalam struktur kota dan memastikan bahwa perkembangan baru menekankan, mempertahankan atau meningkatkan identitas Kota.
Komponen-komponen kunci di struktur perkotaan Edinburgh adalah:
a. Topografi dan Situasi alami, yakni:
-pemandangan alam dan perbukitan
-tepian pantai, tepian sungai, dan kanal
-Lembah, dll
b. Gerbang kota dan jalur arteri (akses utama) mampu memberikan:
-Pesan visual karakter kota
-Pesan visual citra kota
-Identitas kota.
c. Situs warisan sejarah, meliputi:
-Struktur parsial yang khas
-Pola bangunan
-Bentang kota (townscape)
-Karakter khusus
e.Bentuk bangunan (garis langit dan grafik alam) dan landmark
Tantangan dan Peluang Pengembangan Wilayah
Jenis perkembangan membutuhkan Pendekatan desain yang cermat yakni:
■ terletak pada atau di sepanjang tepi jalur hijau, pada gerbang pintu masuk, sepanjang jalan utama atau jalur utama lainnya yang bersifat linier
■ dekat atau di dalam area utama transisi antara satu jenis tepi dan lainnya, misalnya pengembangan dekat dengan membuka ruang antara daerah perumahan dan daerah pusat, sekitar desa, antara satu daerah penunjukan lansekap dan lain, dalam atau dekat dengan Kawasan Konservasi
■ di bidang perubahan strategis, misalnya daerah regenerasi, konsentrasi tua industri dan gudang, besar lembaga, transportasi Persimpangan dll
■ mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap ruang publik kota dan ruang hijau
2. KONTEKS dan PANDANGAN KOTA (CITY WIDE VIEWS AND CONTEXT)
Edinburgh mengajak kita untuk memakai pemandangan terbaik dari setiap sudut kota. Perancangan ini dapat mempengaruhi pandangan landmark, skyline dan pola tradisional perkotaan. Ini adalah bagian integral dari struktur dan identitas kota, sejarah, perkotaan dan karakter arsitektur.
Masalah penting yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan pandangan kota (city wide views) adalah:
■ Bentukan massa bangunan dan tinggi bangunan yang ada di perkotaan
■ Lokasi bangunan bersejarah, kawasan konservasi, atau dll
■ visibilitas dari setiap kunci atau incidental sudut pandang
■ Titik fokus ke pemandangan utama kota landmark dan siluet
3. MENETAPKAN TEPIAN KOTA (DEFINE CITY EDGES)
Pengaturan untuk tepi-tepi kota dapat ditingkatkan melalui perkembangan baru yaitu dengan menyediakan pembauran dan kontinuitas visual dari perkotaan ke daerah pedesaan .
Menetetapkan tepi & pengaturan kota tepi dapat didefinisikan dan ditingkatkan dalam berbagai cara yaitu:
■ Jalur hutan kota
■ Struktural penyangga lansekap
■ Kepadatan pemukiman sedang atau tinggi dihubungkan dengan zona lanskap
■ Variasi dan pemandangan massa atap yang rusak (umumnya maksimal tiga lantai untuk sifat bangunan)
■ Rute taman atau tempat untuk jalan setapak, jalur sepeda dan jalur kendali di pantai, sungai, dan tepi kanal.
4. BERTUJUAN UNTUK MENINGKATKAN CITRA dan KEJELIAN (AIM TO IMPROVE IMAGE AND LEGIBILITY)
Edinburgh membangun sebuah akses baru dari pintu gerbang utama sebuah kota dengan pemandangan khas dari kota tersebut untuk meningkatkan citra (image) dari kota tersebut. Karena apabila pembangunan disekitar pintu gerbang masuk disuguhkan dengan pembangunan kualitas rendah, maka itu dapat mencerminkan bagaimana citra pusat kota tersebut.
Akses utama akan memberikan cerita pengenalan menuju ke pusat kota melalui serangkaian zona yang terkait. Disamping itu rute-rute ini harus simpatik (memberi karakter) untuk penikmatnya.
5. MEMPERKUAT DAN MEMPERPANJANG JARINGAN RUANG HIJAU DAN MASYARAKAT (STRENGTHEN AND EXTEND THE NETWORK OF GREEN AND CIVIC SPACES)
Memperkuat jaringan ruang terbuka hijau yang Stategis dengan mengambil setiap kesempatan harus diambil untuk:
■ menciptakan ruang terbuka baru dan jaringan ke ruang hijau
■ memperkuat dan meningkatkan hubungan antara yang sudah ada dan perkembangan baru
■ memperluas jaringan jalur sepeda dan jalan setapak
■ memastikan perkembangan baru tidak membahayakan ruang terbuka yang ada serta terpisah dari kawasan pelestarian alam
3. MENETAPKAN TEPIAN KOTA (DEFINE CITY EDGES)
Pengaturan untuk tepi-tepi kota dapat ditingkatkan melalui perkembangan baru yaitu dengan menyediakan pembauran dan kontinuitas visual dari perkotaan ke daerah pedesaan .
Menetetapkan tepi & pengaturan kota tepi dapat didefinisikan dan ditingkatkan dalam berbagai cara yaitu:
■ Jalur hutan kota
■ Struktural penyangga lansekap
■ Kepadatan pemukiman sedang atau tinggi dihubungkan dengan zona lanskap
■ Variasi dan pemandangan massa atap yang rusak (umumnya maksimal tiga lantai untuk sifat bangunan)
■ Rute taman atau tempat untuk jalan setapak, jalur sepeda dan jalur kendali di pantai, sungai, dan tepi kanal.
4. BERTUJUAN UNTUK MENINGKATKAN CITRA dan KEJELIAN (AIM TO IMPROVE IMAGE AND LEGIBILITY)
Edinburgh membangun sebuah akses baru dari pintu gerbang utama sebuah kota dengan pemandangan khas dari kota tersebut untuk meningkatkan citra (image) dari kota tersebut. Karena apabila pembangunan disekitar pintu gerbang masuk disuguhkan dengan pembangunan kualitas rendah, maka itu dapat mencerminkan bagaimana citra pusat kota tersebut.
Akses utama akan memberikan cerita pengenalan menuju ke pusat kota melalui serangkaian zona yang terkait. Disamping itu rute-rute ini harus simpatik (memberi karakter) untuk penikmatnya.
5. MEMPERKUAT DAN MEMPERPANJANG JARINGAN RUANG HIJAU DAN MASYARAKAT (STRENGTHEN AND EXTEND THE NETWORK OF GREEN AND CIVIC SPACES)
Memperkuat jaringan ruang terbuka hijau yang Stategis dengan mengambil setiap kesempatan harus diambil untuk:
■ menciptakan ruang terbuka baru dan jaringan ke ruang hijau
■ memperkuat dan meningkatkan hubungan antara yang sudah ada dan perkembangan baru
■ memperluas jaringan jalur sepeda dan jalan setapak
■ memastikan perkembangan baru tidak membahayakan ruang terbuka yang ada serta terpisah dari kawasan pelestarian alam
Sumber:
The Edinburgh Standards for Urban Design, 2003
TEORI
8 Element of Urban Design Process
Tata Guna Lahan merupakan rancangan dua dimensi berupa denah peruntukan lahan sebuah kota. Ruang-ruang tiga dimensi (bangunan) akan dibangun di tempat-tempat sesuai dengan fungsi bangunan tersebut. Pemisahan letak fungsi lahan dengan pertimbangan optimalisasi lahan. Sebagai contoh, di dalam sebuah kawasan industri akan terdapat berbagai macam bangunan industri atau di dalam kawasan perekonomian akan terdapat berbagai macam pertokoan atau pula di dalam kawasan pemerintahan akan memiliki bangunan perkantoran pemerintah. Kebijaksanaan tata guna lahan juga membentuk hubungan antara sirkulasi/parkir dan kepadatan aktivitas/penggunaan individual.
![]() |
| Rencana Tata Guna Lahan Semarang |
Terdapat perbedaan kapasitas (besaran) dan pengaturan dalam penataan ruang kota, termasuk di dalamnya adalah aspek pencapaian, parkir, sistem transportasi yang ada, dan kebutuhan untuk penggunaan lahan secara individual. Pada prinsipnya, pengertian land use (tata guna lahan) adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga dapat memberikan gambaran keseluruhan bagaimana daerah-daerah pada suatu kawasan tersebut seharusnya berfungsi.
2. BENTUK DAN MASSA BANGUNAN
Building form and massing membahas mengenai bagaimana bentuk dan massa-massa bangunan yang ada dapat membentuk suatu kota serta bagaimana hubungan antar-massa (banyak bangunan) yang ada. Pada penataan suatu kota, bentuk dan hubungan antar-massa seperti ketinggian bangunan, jarak antar-bangunan, bentuk bangunan, fasad bangunan, dan sebagainya harus diperhatikan sehingga ruang yang terbentuk menjadi teratur, mempunyai garis langit - horizon (skyline) yang dinamis serta menghindari adanya lost space (ruang tidak terpakai). Building form and massing dapat meliputi kualitas yang berkaitan dengan penampilan bangunan, yaitu :
a.Ketinggian Bangunan
Ketinggian bangunan berkaitan dengan jarak pandang manusia, baik yang berada dalam bangunan maupun yang berada pada jalur pejalan kaki (luar bangunan). Ketinggian bangunan pada suatu kawasan membentuk sebuah garis horizon (skyline). Ketinggian bangunan di tiap fungsi ruang perkotaan akan berbeda, tergantung dari tata guna lahan. Sebagai contoh, bangunan di sekitar bandara akan memiliki ketinggian lebih rendah dibanding bangunan di kawasan perekonomian.
b.Kepejalan Bangunan
Pengertian dari kepejalan adalah penampilan gedung dalam konteks kota. Kepejalan suatu gedung ditentukan oleh perbandingan tinggi : luas : lebar : panjang, olahan massa (desain bentuk), dan variasi penggunaan material.
c.Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
Koefisien Lantai Bangunan adalah jumlah luas lantai bangunan berbanding luas tapak (jika KLB=200%, maka di tapak seluas 100m2, dapat dibangun bangunan dengan luas lantai 200m2 - lantai banyak). Koefisien Lantai Bangunan dipengaruhi oleh daya dukung tanah, daya dukung lingkungan, nilai harga tanah, dan faktor-faktor khusus tertentu sesuai dengan peraturan atau kepercayaan daerah setempat.
d.Koefisien Dasar Bangunan (Building Coverage)
Adalah luas tapak yang tertutup dibandingkan dengan luas tapak keseluruhan. Koefisien Dasar Bangunan dimaksudkan untuk menyediakan area terbuka yang cukup di kawasan perkotaan agar tidak keseluruhan tapak diisi dengan bangunan. Hal ini dimaksudkan agar daur lingkungan tidak terhambat terhambat, terutama penyerapan air ke dalam tanah.
e.Garis Sempadan Bangunan (GSB)
Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bangunan terhadap as jalan. Garis ini sangat penting dalam mengatur keteraturan bangunan di tepi jalan kota. Selain itu juga berfungsi sebagai jarak keselamatan pengguna jalan, terutama jika terjadi kecelakaan.
f.Langgam
Langgam atau gaya dapat diartikan sebagai suatu kumpulan karakteristik bangunan dimana struktur, kesatuan dan ekspresi digabungkan di dalam satu periode atau wilayah tertentu. Peran dari langgam ini dalam skala urban jika direncanakan dengan baik dapat menjadi guide line yang dapat menyatukan fragmen-fragmen dan bentuk bangunan di kota.
g.Skala
Rasa akan skala dan perubahan-perubahan dalam ketinggian ruang atau bangunan dapat memainkan peranan dalam menciptakan kontras visual yang dapat membangkitkan daya hidup dan kedinamisan.
h.Material
Peran material berkenaan dengan komposisi visual dalam perancangan. Komposisi yang dimaksud diwujudkan oleh hubungan antar elemen visual.
i.Tekstur
Dalam sebuah komposisi yang lebih besar (skala urban) sesuatu yang dilihat dari jarak tertentu maka elemen yang lebih besar dapat menimbulkan efek-efek tekstur.
j.Warna
Dengan adanya warna (kepadatan warna, kejernihan warna), dapat memperluas kemungkinan ragam komposisi yang dihasilkan.
.png)
Menurut Spreegen (1965), prinsip dasar perancangan kota, mensintesa berbagai hal penting berkaitan bentuk dan massa bangunan, meliputi berbagai hal sebagai berikut :
-Skala, dalam hubungannya dengan sudut pandang manusia, sirkulasi, bangunan disekitarnya dan ukuran kawasan.
-Ruang kota, yang merupakan elemen dasar dalam perencanaan kota yang harus memperhatikan bentuk (urban form), skala, sense of enclosure dan tipe urban space.
-Massa kota (urban mass), yang di dalamnya meliputi bangunan, permukaan tanah, objek-objek yang membentuk ruang kota dan pola aktivitas.
3. SIRKULASI DAN PARKIR
Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara
langsung dapat membentuk dan mengkontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya
dengan keberadaan sistem transportasi dari jalan publik, pedestrian way, dan
tempat-tempat transit yang saling berhubungan akan membentuk pergerakan (suatu
kegiatan). Sirkulasi di dalam kota merupakan salah satu alat yang paling kuat
untuk menstrukturkan lingkungan perkotaan karena dapat membentuk, mengarahkan,
dan mengendalikan pola aktivitas dalam suatu kota. Selain itu sirkulasi dapat
membentuk karakter suatu daerah, tempat aktivitas dan lain sebagainya.
Tempat parkir mempunyai pengaruh langsung pada suatu
lingkungan yaitu pada kegiatan komersial di daerah perkotaan dan mempunyai
pengaruh visual pada beberapa daerah perkotaan. Penyediaan ruang parkir yang
paling sedikit memberi efek visual yang merupakan suatu usaha yang sukses dalam
perancangan kota.
| Sirkulasi dan Parkir di Wilayah Pantai Marina |
Elemen ruang parkir memiliki dua efek langsung pada kualitas
lingkungan, yaitu :
a. Kelangsungan aktivitas komersial.
b. Pengaruh visual yang penting pada bentuk fisik dan
susunan kota.
Dalam merencanakan tempat parkir yang benar, hendaknya
memenuhi persyaratan :
a. keberadaan strukturnya tidak mengganggu aktivitas di sekitar
kawasan
b. pendekatan program penggunaan berganda
c. tempat parkir khusus
d. tempat parkir di pinggiran kota.
Dalam perencanaan untuk jaringan sirkulasi dan parkir harus
selalu memperhatikan :
a. Jaringan jalan harus merupakan ruang terbuka yang mendukung
citra kawasan dan aktivitas pada kawasan.
b. Jaringan jalan harus memberi orientasi pada penggunan dan
membuat lingkungan yang legible.
c. Kerjasama dari sektor kepemilikan dan privat dan publik
dalam mewujudkan tujuan dari kawasan.
4. RUANG TERBUKA
Berbicara tentang ruang terbuka (open space) selalu
menyangkut lansekap. Elemen lansekap terdiri dari elemen keras (hardscape
seperti : jalan, trotoar, patun, bebatuan dan sebagainya) serta elemen lunak
(softscape) berupa tanaman dan air. Ruang terbuka biasa berupa lapangan, jalan,
sempadan sungai, green belt, taman dan sebagainya.
Dalam perencanan open space akan senantiasa terkait dengan
perabot taman/jalan (street furniture). Street furniture ini bisa berupa lampu,
tempat sampah, papan nama, bangku taman dan sebagainya.
Menurut S Gunadi (1974) dalam Yoshinobu Ashihara, ruang luar
adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam. Ruang luar dipisahkan dengan
alam dengan memberi jadi bukan alam itu sendiri (yang dapat meluas tak
terhingga).
![]() |
| Alun Alun Simpang Lima Semarang |
Elemen ruang terbuka kota meliputi lansekap, jalan,
pedestrian, taman, dan ruang-ruang rekreasi. Langkah-langkah dalam perencanaan
ruang terbuka :
a. Survey pada daerah yang direncanakan untuk menentukan
kemampuan daerah tersebut untuk berkembang.
b. Rencana jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi alami
(natural) kawasan sebagai ruang publik.
c. Pemanfaatan potensi alam kawasan dengan menyediakan
sarana yang sesuai.
d. Studi mengenai ruang terbuka untuk sirkulasi (open space
circulation) mengarah pada kebutuhan akan penataan yang manusiawi.
5. JALAN PEJALAN KAKI
Elemen pejalan kaki harus dibantu dengan interaksinya pada
elemen-elemen dasar desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan kota
dan pola-pola aktivitas sertas sesuai dengan rencana perubahan atau pembangunan
fisik kota di masa mendatang.
| Pedestrian Way di Singapura |
Perubahan-perubahan rasio penggunaan jalan raya yang dapat
mengimbangi dan meningkatkan arus pejalan kaki dapat dilakukan dengan
memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut :
a. Pendukung aktivitas di sepanjang jalan, adanya sarana
komersial seperti toko, restoran, café.
b. Street furniture berupa pohon-pohon, rambu-rambu, lampu,
tempat duduk, dan sebagainya.
Dalam perancangannya, jalur pedestrian harus mempunyai
syarat-syarat untuk dapat digunakan dengan optimal dan memberi kenyamanan pada
penggunanya. Syarat-syarat tersebut adalah :
a. Aman dan leluasa dari kendaraan bermotor.
b. Menyenangkan, dengan rute yang mudah dan jelas yang
disesuaikan dengan hambatan kepadatan pejalan kaki.
c. Mudah, menuju segala arah tanpa hambatan yang disebabkan
gangguan naik-turun, ruang yang sempit, dan penyerobotan fungsi lain.
d. Punya nilai estetika dan daya tarik, dengan penyediaan
sarana dan prasarana jalan seperti: taman, bangku, tempat sampah dan lainnya.
6. AKTIVITAS PENDUKUNG
Aktivitas pendukung adalah semua fungsi bangunan dan
kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Bentuk,
lokasi dan karakter suatu kawasan yang memiliki ciri khusus akan berpengaruh
terhadap fungsi, penggunaan lahan dan kegiatan pendukungnya. Aktivitas
pendukung tidak hanya menyediakan jalan pedestrian atau plasa tetapi juga
mempertimbangkan fungsi utama dan penggunaan elemen-elemen kota yang dapat
menggerakkan aktivitas.
Meliputi segala fungsi dan aktivitas yang memperkuat ruang
terbuka publik, karena aktivitas dan ruang fisik saling melengkapi satu sama
lain. Pendukung aktivitas tidak hanya berupa sarana pendukung jalur pejalan
kaki atau plaza tapi juga pertimbangankan guna dan fungsi elemen kota yang
dapat membangkitkan aktivitas seperti pusat perbelanjaan, taman rekreasi,
alun-alun, dan sebagainya.
| PKL di area Museum Fatahilah Jakarta |
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan desain
activity support adalah :
a. Adanya koordinasi antara kegiatand engan lingkungan
binaan yang dirancang.
b. Adanya keragaman intensitas kegiatan yang dihadirkan
dalam suatu ruang tertentu.
c. Bentuk kegiatan memperhatikan aspek kontekstual.
d. Pengadaan fasilitas lingkungan.
e. Sesuatu yang terukur, menyangkut ukuran, bentuk dan
lokasi dan fasilitas yang menampung activity support yang bertitik-tolak dari
skala manusia
7. PRESERVASI
Preservasi dalam perancangan kota adalah perlindungan
terhadap lingkungan tempat tinggal (permukiman) dan urban places (alun-alun,
plasa, area perbelanjaan) yang ada dan mempunyai ciri khas, seperti halnya
perlindungan terhadap bangunan bersejarah.
![]() |
| Jembatan Mberok dan Kali Semarang, Kota Lama Semarang |
Manfaat dari adanya preservasi
antara lain:
a. Peningkatan nilai lahan
b. Peningkatan nilai lingkungan
c. Menghindarkan dari pengalihan bentuk dan fungsi karena
aspek komersial
d. Menjaga identitas kawasan perkotaan
e. Peningkatan pendapatan dari pajak dan retribusi
8. SIGNAGE
Penandaan yang dimaksud adalah petunjuk arah jalan, rambu lalu lintas, media iklan, dan berbagai bentuk penandaan lain. Keberadaan penandaan akan sangat mempengaruhi visualisasi kota, baik secara makro maupun mikro, jika jumlahnya cukup banyak dan memiliki karakter yang berbeda. Sebagai contoh, jika banyak terdapat penandaan dan tidak diatur perletakannya, maka akan dapat menutupi fasad bangunan di belakangnya. Dengan begitu, visual bangunan tersebut akan terganggu. Namun, jika dilakukan enataan dengan baik, ada kemungkinan penandaan tersebut dapat menambah keindahan visual bangunan di belakangnya.
Oleh karena itu, pemasangan penandaan haruslah dapat mampu menjaga keindahan visual bangunan perkotaan. Dalam pemasangan penandaan harus memperhatikan pedoman teknis sebagai berikut:
a. Penggunaan penandaan harus merefleksikan karakter kawasan.
b. Jarak dan ukuran harus memadahi dan diatur sedemikian rupa agar menjamin jarak penglihatan dan menghindari kepadatan.
c. Penggunaan dan keberadaannya harus harmonis dengan bangunan arsitektur di sekitar lokasi.
d. Pembatasan penggunaan lampu hias kecuali penggunaan khusus untuk theatre dan tempat pertunjukkan (tingkat terangnya harus diatur agar tidak mengganggu).
e. Pembatasan penandaan yang berukuran besar yang mendominir di lokasi pemandangan kota.
Penandaan mempunyai pengaruh penting pada desain tata kota sehingga pengaturan bentuk dan perletakan papan-papan petunjuk sebaiknya tidak menimbulkan pengaruh visual negatif dan tidak mengganggu rambu-rambu lalu lintas.
Sumber:
The Urban Design Process (1985), Hamid Shirvani.
http://fariable.blogspot.com/2011/01/elemen-perancangan-kota-hamid-shirvani.html
REFERENSI × TEORI
Saat ini di Indonesia, museum menjadi salah satu tempat yang kurang diminati untuk dikunjungi. Hal ini karena hampir diseluruh museum dilengkapi fasilitas yang tidak memadai dan kurang menarik. Padahal museum dapat menjadi tempat untuk menyimpan cerita historis tentang Indonesia dan melestarikannya ke generasi muda. Berikut merupakan beberapa definisi dari Museum.
Museum: lembaga yang peduli (melestarikan) koleksi artefak dan benda-benda lain dari ilmiah, seni, budaya, atau sejarah penting dan membuat mereka tersedia untuk dilihat publik melalui pameran yang bersifat permanen atau sementara.
Museum berasal dari bahasa Yunani MUSEION. Museum merupakan sebuah bangunan tempat suci untuk memuja Sembilan Dewi Suci dan Ilmu Pengetahuan. Salah satu dari Sembilan Dewi tersebut ialah MOUSE, yang lahir dari maha Dewa Zousdengan isterinya Mnemosyne. Dewa dan Dewi tersebut bersemayam di Pegunungan Olympus. Museion selain tempat suci, pada wakyu itu juga untuk berkumpul para cendekiawan yang mempelajari serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai tempat pemujaan Dewa Dewi.
Museum, berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums disingkat ICOM, adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan.
Fungsi Museum
Museum dewasa ini adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan,untuk tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang pembuktian manusia dan lingkungannya. Museum merupakan suatu badan yang mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda yang penting bagi Kebudayaan dan Ilmu pengetahuan.
Jenis-jenis museum:
-Archaeology museums
-Art museums
-Biographical museums
-Children's museums
-Encyclopedic museums
-Historic house museums
-History museums
-Living history museums
-Maritime museums
-Military and war museums
-Mobile museums
-Natural history museums
-Open-air museums
-Pop-up museums
-Science museums
-Specialized museums
-Virtual museums
-Zoological parks and botanic gardens
| Singapore's Art Museum |
| Columbia River Maritime Museum |
| London Science Museum |
Klasifikasi Museum di Indonesia
Museum yang terdapat di Indonesia dapat dibedakan melaui beberapa jenis klasifikasi (Ayo Kita Mengenal Museum ; 2009), yakni sebagai berikut :
1. Jenis museum berdasarkan koleksi yang dimiliki, yaitu terdapat dua jenis :
Museum Umum
Museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan atau lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi.
Museum Khusus
Museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan satu cabang seni, satu cabang ilmu atau satu cabang teknologi.
2. Jenis museum berdasarkan kedudukannya, terdapat tiga jenis :
Museum Nasional
Museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan benda yang berasal, mewakili dan berkaitan dengan bukti material manusia dan atau lingkungannya dari seluruh wilayah Indonesia yang bernilai nasional.
| Museum Nasional Indonesia |
Museum Propinsi
Museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan benda yang berasal, mewakili dan berkaitan dengan bukti material manusia dan atau lingkungannya dari wilayah propinsi dimana museum berada.
Museum Lokal
Museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan benda yang berasal, mewakili dan berkaitan dengan bukti material manusia dan atau lingkungannya dari wilayah kabupaten atau kotamadya dimana museum tersebut berada.
3. Jenis museum berdasarkan penyelenggara, yaitu terdapat dua jenis :
Museum Pemerintah
Diselenggarakan dan dikelola oleh pemerintah.
Museum Swasta
Diselenggarakan dan dikelola oleh swasta.
Diselenggarakan dan dikelola oleh swasta.
A. Pameran
Pameran adalah satu atau lebih koleksi di museum yang ditata berdasarkan tema dan sistematika tertentu yang bertujuan untuk diperlihatkan kepada pengunjung museum.
Berdasarkan pengertian dan jangka waktu pelaksanaan pameran, pameran museum dibagi menjadi dua jenis:
Pameran Tetap
Pameran tetap adalah pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu
sekurang-kurangnya lima tahun.
Pameran Khusus
Pameran khusus dibagi menjadi dua :
1. Pameran Khusus
Pameran (khusus) adalah pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu tertentu dalam waktu yang singkat dari satu minggu sampai satu tahun.
2. Pameran Keliling
Pamern keliling merupakan pameran yang diselenggarakan diluar museum pemilik koleksi, dalam jangka waktu tertentu, dalam variasi waktu yang singkat.
Pameran khusus dibagi menjadi dua :
1. Pameran Khusus
Pameran (khusus) adalah pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu tertentu dalam waktu yang singkat dari satu minggu sampai satu tahun.
2. Pameran Keliling
Pamern keliling merupakan pameran yang diselenggarakan diluar museum pemilik koleksi, dalam jangka waktu tertentu, dalam variasi waktu yang singkat.
B. Kegiatan Pendidikan
Dalam sebuah museum juga terdapat berbagai kegiatan seperti kegiatan pendidikan yang bersifak aktif seperti :
· Ceramah
· Diskusi
· Kursus
· Perpustakaan
· Pemutaran Slide, film documenter, film ilmiah
· Penerbitan catalog yang berhubungan dengan program yang dilaksanakan museum.
Dalam sebuah museum juga terdapat berbagai kegiatan seperti kegiatan pendidikan yang bersifak aktif seperti :
· Ceramah
· Diskusi
· Kursus
· Perpustakaan
· Pemutaran Slide, film documenter, film ilmiah
· Penerbitan catalog yang berhubungan dengan program yang dilaksanakan museum.
C. Kegiatan Konservasi dan Pengolaan Koleksi
1. Kegiatan Konservasi, meliputi :
1. Kegiatan Konservasi, meliputi :
- Perawatan barang koleksi
- Pengawetan barang koleksi
- Pengamanan barang koleksi
- Pengadaan koleksi
- Identifikasi koleksi
- Klasifikasi koleksi
- Regerstrasi dan heregistrasi koleksi
- Katalogisasi dan rekatalogisasi koleksi
- Dokumentasi koleksi
- Pencatatan aktivitas koleksi
- Pertukaran koleksi
- Pengurangan koleksi
D. Kegiatan Pelayanan Teknis
1. Kegiatan survey dan penelitian lapangan
2. Penyelenggaraan presentasi koleksi dan presentasi ruang pamer
3. Pengadaan peralatan museum
1.Lokasi harus strategis dan sehat (tidak terpolusi, bukan daerah yang berlumpur/tanah rawa).
2.Bangunan museum dapat berupa bangunan baru atau memanfaatkan gedung lama.
3.Harus memenuhi prinsip-prinsip konservasi, agar koleksi museum tetap lestari.
4.Bangunan museum minimal dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu bangunan pokok (pameran tetap, pameran temporer, auditorium, kantor, laboratorium konservasi, perpustakaan, bengkel preparasi, dan ruang penyimpanan koleksi) serta bangunan penunjang (pos keamanan, museum shop, tiket box, toilet, lobby, dan tempat parkir).
1. Kegiatan survey dan penelitian lapangan
2. Penyelenggaraan presentasi koleksi dan presentasi ruang pamer
3. Pengadaan peralatan museum
Acuan Hukum Mendirikan Museum
Pendirian sebuah museum memiliki acuan hukum, yaitu:
1.Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
2.Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992
3.Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum
4.Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 tentang Museum
Pendirian sebuah museum memiliki acuan hukum, yaitu:
1.Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
2.Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992
3.Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum
4.Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 tentang Museum
Persyaratan Mendirikan Museum
Adapun persyaratan berdirinya sebuah museum adalah: 1.Lokasi harus strategis dan sehat (tidak terpolusi, bukan daerah yang berlumpur/tanah rawa).
2.Bangunan museum dapat berupa bangunan baru atau memanfaatkan gedung lama.
| Museum Bahari Jakarta yang memanfaatkan gedung bekas era jajahan Jepang |
3.Harus memenuhi prinsip-prinsip konservasi, agar koleksi museum tetap lestari.
4.Bangunan museum minimal dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu bangunan pokok (pameran tetap, pameran temporer, auditorium, kantor, laboratorium konservasi, perpustakaan, bengkel preparasi, dan ruang penyimpanan koleksi) serta bangunan penunjang (pos keamanan, museum shop, tiket box, toilet, lobby, dan tempat parkir).
5. Koleksi
Koleksi merupakan syarat mutlak dan merupakan rohnya sebuah museum, maka
koleksi harus:
•mempunyai nilai sejarah dan nilai-nilai ilmiah (termasuk nilai estetika);
•harus diterangkan asal-usulnya secara historis, geografis dan fungsinya;
•harus dapat dijadikan monumen jika benda tersebut berbentuk bangunan yang berarti juga mengandung nilai sejarah;
Koleksi merupakan syarat mutlak dan merupakan rohnya sebuah museum, maka
koleksi harus:
•mempunyai nilai sejarah dan nilai-nilai ilmiah (termasuk nilai estetika);
•harus diterangkan asal-usulnya secara historis, geografis dan fungsinya;
•harus dapat dijadikan monumen jika benda tersebut berbentuk bangunan yang berarti juga mengandung nilai sejarah;
•dapat diidentifikasikan mengenai bentuk, tipe, gaya, fungsi, makna, asal secara historis dan geografis, genus (untuk biologis), atau periodenya (dalam geologi, khususnya untuk benda
alam);
•harus dapat dijadikan dokumen, apabila benda itu berbentuk dokumen dan dapat dijadikan bukti bagi penelitian ilmiah;
•harus merupakan benda yang asli, bukan tiruan;
•harus merupakan benda yang memiliki nilai keindahan (master piece); dan
•harus merupakan benda yang unik, yaitu tidak ada duanya.
alam);
•harus dapat dijadikan dokumen, apabila benda itu berbentuk dokumen dan dapat dijadikan bukti bagi penelitian ilmiah;
•harus merupakan benda yang asli, bukan tiruan;
•harus merupakan benda yang memiliki nilai keindahan (master piece); dan
•harus merupakan benda yang unik, yaitu tidak ada duanya.
| Winterthur Chair Typology in Winterthur Museum |
| Shell Collection in Bali Shell Museum |
6. Peralatan museum
Museum harus memiliki sarana dan prasarana museum berkaitan erat dengan kegiatan pelestarian, seperti vitrin, sarana perawatan koleksi (AC, dehumidifier, dll.), pengamanan (CCTV, alarm system, dll.), lampu, label, dan lain-lain.
7. Organisasi dan ketenagaan
Pendirian museum sebaiknya ditetapkan secara hukum. Museum harus memiliki organisasi dan ketenagaan di museum, yang sekurang kurangnya terdiri dari kepala museum, bagian administrasi, pengelola koleksi (kurator), bagian konservasi (perawatan), bagian penyajian (preparasi), bagian pelayanan masyarakat dan bimbingan edukasi, serta pengelola perpustakaan.
8. Sumber dana tetap
Museum harus memiliki sumber dana tetap dalam penyelenggaraan dan pengelolaan museum.
Sumber:
http://belajaritutiadaakhir.blogspot.com/2011/08/museum-di-indonesia.html
http://rikuroku-valerinasoulz.blogspot.com/2013/07/museum-bahari_20.html
Museum harus memiliki sarana dan prasarana museum berkaitan erat dengan kegiatan pelestarian, seperti vitrin, sarana perawatan koleksi (AC, dehumidifier, dll.), pengamanan (CCTV, alarm system, dll.), lampu, label, dan lain-lain.
7. Organisasi dan ketenagaan
Pendirian museum sebaiknya ditetapkan secara hukum. Museum harus memiliki organisasi dan ketenagaan di museum, yang sekurang kurangnya terdiri dari kepala museum, bagian administrasi, pengelola koleksi (kurator), bagian konservasi (perawatan), bagian penyajian (preparasi), bagian pelayanan masyarakat dan bimbingan edukasi, serta pengelola perpustakaan.
8. Sumber dana tetap
Museum harus memiliki sumber dana tetap dalam penyelenggaraan dan pengelolaan museum.
Sumber:
http://rikuroku-valerinasoulz.blogspot.com/2013/07/museum-bahari_20.html
HASIL DISKUSI × TEORI
Dalam proyek Studi Perancangan Arsitektur 5 kali ini kami mahasiswa/i arsitektur akan membuat bangunan Museum Bahari. Museum Bahari adalah museum yang menampilkan koleksi benda-benda yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Museum Bahari Indonesia sendiri berada di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Jakarta Utara
Dahulu museum ini merupakan gudang tempat menyimpan rempah-rempah Belanda yang dahulu merupakan komoditi utama yang sangat laris di dataran Eropa yang dibangun tahun 1652. Museum Bahari menyimpan 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan. Terutama kapal dan perahu-perahu niaga tradisional. Di antara puluhan miniatur yang dipajang terdapat 19 koleksi perahu asli dan 107 buah miniatur. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut di masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam.
Bangunan berlantai tiga diresmikan menjadi Museum Bahari pada 7 Juli 1977 ini juga memiliki koleksi biota laut, data-data jenis sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia - Amsterdam.
Sayangnya bangunan museum ini tidak menunjang fasilitas untuk museum bahari itu sendiri. Karena bangunan ini memang bukan bangunan yang didesain khusus untuk Museum Bahari.
Sebelum merancang museum, yang harus diperhatikan dalam ketika mendesain museum adalah:
Lokasi
Dalam proyek Studio Perancangan Arsitektur 5 ini kami mendapatkan lokasi site di daerah Pantura di kota Semarang.
Owner
Owner yang di maksud dalam proyek ini adalah pemilik dari museum yang akan dirancang. Karena lokasinya berada di Semarang, kita sebagai perancang harus mengetahui yayasan / pemerintah / swasta yang dapat kita ajak kerjasama untuk merancang museum bahari ini.
Sejarah yang ingin di tampilkan
Sebagai seorang perancang bangunan, sebelum mendesain tentu harus menentukan topic acuan desain dimana dalam hal ini adalah sejarah maritime Indonesia. Indonesia pada abad ke 13 memiliki kerajaan yang terkenal dengan kejayaan maritimnya. Dalam hal ini, kami (Grup 4) mengambil sejarah kerajaan Sriwijaya yang terkenal akan kehebatannya di lautan. Maka perlu di lakukan adanya survey atau pencarian tentang sejarah kerajaan Sriwijaya di masa lalu terutama tentang pelayaran kapalnya.
Ciri khas daerah
Sesuai dengan lokasi site proyek museum bahari ini (Semarang), selain sejarah yang yang ingin ditampilkan di dalam desain maupun isi di dalam museumnya, kita juga harus mengetahui bagaimana lingkungan disana. Bagaimana adat istiadat dan budaya yang berkembang di Semarang, serta sejarah perkembangan arsitektur Semarang. Hal ini dapat mempengaruhi desain yang akan kita rancang.
Inovasi Di Museum
Pengertian dari inovasi adalah penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovasi yang dapat dikembangkan dimuseum ini bisa beragam. Contoh misalnya Theater Cinema yang ada di museum di buat 4D. jadi pengunjung dapat merasakan keadaan seperti mengarungi lautan sesungguhnya. Atau dapat di inovasikan dengan alat peraga digital dalam bentuk permainan.
Kebutuhan Ruang
Banyaknya ruang yang di rancang tergantung atas aktivitas yang akan ada di dalam museum tersebut. Selain fasilitas utama dan pendukung untuk pengunjung seperti toilet, mushola, parkiran, dan cafeteria, ruang yang ada di dalam museum juga harus tepat agar tidak ada lost space yang kemudian tidak berguna dan kosong. Setelah kita menentukan topic museum bahari, kita dapat merancang ruang apa saja yang akan disediakan di dalam museum yang kita desain ini sesuai dengan aktivitas atau kegiatan didalamnya.
Akomodasi Yang Mendukung
Pengunjung yang beragam mengharuskan kita sebagai perancang untuk mencoba memfasilitasi para pengunjung yang datang ke museum bahari ini. Pengunjung yang datang ke museum terdiri dari 2 kelompok, kelompok kecil dan kelompok besar. Kelompok kecil merupakan sekelompok pengunjung yang datang dari 2-6 orang, sedangkan kelompok besar merupakan sekelompok rombongan yang datang hingga 30 orang. Contohnya rombongan siswa study tour. Dengan pengunjung yang tidak dapat kita batasi, kita harus mempertimbangkan rancangan ruang yang sesuai dengan kelompok pengunjung ini. Misalnya seperti desain Cinema Theater yang dibuat dengan kapasitas 30 org bahkan penginapan untuk pengunjung yang berasal dari tempat yang jauh.
Artefak
Setelah menentukan tema sejarah yang diangkat, perlu pula ditentukan artefak atau koleksi-koleksi yang akan di tampilkan di dalam museum. Dalam hal ini kami (Grup 4) telah menentukan sejarah kerajaan Sriwijaya sebagai tema yang diangkat. Maka koleksi yang ditampilkan tentu koleksi yang berhubungan dengan Sriwijaya. Contohnya seperti transportasi yang digunakan ketika Sriwijaya berlayar.
Struktur dan Pencahayaan
Hal ini terkait dengan bangunan museum, sebagai bangunan yang monumental tentu rancangan museum tidak sama dengan rancangan rumah tinggal. Beberapa museum bahari menggunakan struktur tinggi bentang lebar karena museum bahari merupakan bangunan yang besar karena biasanya terdapat replika kapal di dalamnya. Pencahayaan museum sebaiknya memaksimalkan cahaya alami ketika siang hari. Diperlukan studi site untuk menentukan cahaya yang baik untuk ruang dalam.
Status Pekerjaan Penduduk Setempat
Tidak hanya menjadi icon baru dan pusat studi untuk masyarakat setempat, tetapi diharapkan bangunan ini menjadi pembuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat setempat. Contoh misalnya data penduduk setempat kebanyakan yang berwiraswasta maka kita sebagai perancang dapat menarik mereka untuk bekerja sama. Yaitu dengan menyediakan lapak untuk mereka berjualan.
Jika kebanyakan penduduk setempat merupakan pelajar dan mahasiswa/i, maka kita harus memaksimalkan museum sebagai pusat studi di Semarang terutama mengenalkan tentang sejarah kemaritiman Indonesia.
Sifat yang Terkait dengan Gubahan Massa
Kesenangan Untuk Para Pengunjung
Ungkapan “Tamu Adalah Raja” masih berlaku untuk bangunan publik karena pengunjung merupakan penikmat dari bangunan tersebut. Permasalahan museum di Indonesia adalah kurang menariknya pengolahan rekreasi yang ada di museum sehingga pengunjung tidak merasa betah di dalamnya dan ingin cepat-cepat keluar dari museum. Dalam proyek museum bahari ini adalah bagaimana kita mencoba untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya kedalam museum dengan imajinasi apabila desain rancangan kita di wujudkan. Kesenangan ini juga terkait dengan inovasi museum. Museum yang monoton membuat pengunjung akan bosan di dalamnya. Namun apabila kita mengolah dengan baik maka akan terjadi sebaliknya.
Sumber:
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ved=0CDUQFjAC&url=http%3A%2F%2Fkebudayaan.kemdikbud.go.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2013%2F05%2FMUSEUMPENGAMANAN-_Brigjen-Mapparessa_Kapusjarah-POLRI.pptx&ei=JCNAUp-fFoX_rAfghIDQCg&usg=AFQjCNFhDH-GtLXXyVBVgZAPMFKQPauQSQ&sig2=fHahctNvPe_6dsHzpFdmVg&bvm=bv.52434380,d.bmk
http://www.indonesia.travel/id/destination/535/museum-bahari
Dahulu museum ini merupakan gudang tempat menyimpan rempah-rempah Belanda yang dahulu merupakan komoditi utama yang sangat laris di dataran Eropa yang dibangun tahun 1652. Museum Bahari menyimpan 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan. Terutama kapal dan perahu-perahu niaga tradisional. Di antara puluhan miniatur yang dipajang terdapat 19 koleksi perahu asli dan 107 buah miniatur. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut di masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam.
Bangunan berlantai tiga diresmikan menjadi Museum Bahari pada 7 Juli 1977 ini juga memiliki koleksi biota laut, data-data jenis sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia - Amsterdam.
Sayangnya bangunan museum ini tidak menunjang fasilitas untuk museum bahari itu sendiri. Karena bangunan ini memang bukan bangunan yang didesain khusus untuk Museum Bahari.
Sebelum merancang museum, yang harus diperhatikan dalam ketika mendesain museum adalah:
Lokasi
Dalam proyek Studio Perancangan Arsitektur 5 ini kami mendapatkan lokasi site di daerah Pantura di kota Semarang.Owner
Owner yang di maksud dalam proyek ini adalah pemilik dari museum yang akan dirancang. Karena lokasinya berada di Semarang, kita sebagai perancang harus mengetahui yayasan / pemerintah / swasta yang dapat kita ajak kerjasama untuk merancang museum bahari ini.Sejarah yang ingin di tampilkan
Sebagai seorang perancang bangunan, sebelum mendesain tentu harus menentukan topic acuan desain dimana dalam hal ini adalah sejarah maritime Indonesia. Indonesia pada abad ke 13 memiliki kerajaan yang terkenal dengan kejayaan maritimnya. Dalam hal ini, kami (Grup 4) mengambil sejarah kerajaan Sriwijaya yang terkenal akan kehebatannya di lautan. Maka perlu di lakukan adanya survey atau pencarian tentang sejarah kerajaan Sriwijaya di masa lalu terutama tentang pelayaran kapalnya.Ciri khas daerah
Sesuai dengan lokasi site proyek museum bahari ini (Semarang), selain sejarah yang yang ingin ditampilkan di dalam desain maupun isi di dalam museumnya, kita juga harus mengetahui bagaimana lingkungan disana. Bagaimana adat istiadat dan budaya yang berkembang di Semarang, serta sejarah perkembangan arsitektur Semarang. Hal ini dapat mempengaruhi desain yang akan kita rancang.
Inovasi Di Museum
Pengertian dari inovasi adalah penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovasi yang dapat dikembangkan dimuseum ini bisa beragam. Contoh misalnya Theater Cinema yang ada di museum di buat 4D. jadi pengunjung dapat merasakan keadaan seperti mengarungi lautan sesungguhnya. Atau dapat di inovasikan dengan alat peraga digital dalam bentuk permainan.
Kebutuhan Ruang
Banyaknya ruang yang di rancang tergantung atas aktivitas yang akan ada di dalam museum tersebut. Selain fasilitas utama dan pendukung untuk pengunjung seperti toilet, mushola, parkiran, dan cafeteria, ruang yang ada di dalam museum juga harus tepat agar tidak ada lost space yang kemudian tidak berguna dan kosong. Setelah kita menentukan topic museum bahari, kita dapat merancang ruang apa saja yang akan disediakan di dalam museum yang kita desain ini sesuai dengan aktivitas atau kegiatan didalamnya.
Akomodasi Yang Mendukung
Pengunjung yang beragam mengharuskan kita sebagai perancang untuk mencoba memfasilitasi para pengunjung yang datang ke museum bahari ini. Pengunjung yang datang ke museum terdiri dari 2 kelompok, kelompok kecil dan kelompok besar. Kelompok kecil merupakan sekelompok pengunjung yang datang dari 2-6 orang, sedangkan kelompok besar merupakan sekelompok rombongan yang datang hingga 30 orang. Contohnya rombongan siswa study tour. Dengan pengunjung yang tidak dapat kita batasi, kita harus mempertimbangkan rancangan ruang yang sesuai dengan kelompok pengunjung ini. Misalnya seperti desain Cinema Theater yang dibuat dengan kapasitas 30 org bahkan penginapan untuk pengunjung yang berasal dari tempat yang jauh.
Artefak
Setelah menentukan tema sejarah yang diangkat, perlu pula ditentukan artefak atau koleksi-koleksi yang akan di tampilkan di dalam museum. Dalam hal ini kami (Grup 4) telah menentukan sejarah kerajaan Sriwijaya sebagai tema yang diangkat. Maka koleksi yang ditampilkan tentu koleksi yang berhubungan dengan Sriwijaya. Contohnya seperti transportasi yang digunakan ketika Sriwijaya berlayar.
Struktur dan Pencahayaan
Hal ini terkait dengan bangunan museum, sebagai bangunan yang monumental tentu rancangan museum tidak sama dengan rancangan rumah tinggal. Beberapa museum bahari menggunakan struktur tinggi bentang lebar karena museum bahari merupakan bangunan yang besar karena biasanya terdapat replika kapal di dalamnya. Pencahayaan museum sebaiknya memaksimalkan cahaya alami ketika siang hari. Diperlukan studi site untuk menentukan cahaya yang baik untuk ruang dalam.
Status Pekerjaan Penduduk Setempat
Tidak hanya menjadi icon baru dan pusat studi untuk masyarakat setempat, tetapi diharapkan bangunan ini menjadi pembuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat setempat. Contoh misalnya data penduduk setempat kebanyakan yang berwiraswasta maka kita sebagai perancang dapat menarik mereka untuk bekerja sama. Yaitu dengan menyediakan lapak untuk mereka berjualan.
Jika kebanyakan penduduk setempat merupakan pelajar dan mahasiswa/i, maka kita harus memaksimalkan museum sebagai pusat studi di Semarang terutama mengenalkan tentang sejarah kemaritiman Indonesia.
Sifat yang Terkait dengan Gubahan Massa
Kesenangan Untuk Para Pengunjung
Ungkapan “Tamu Adalah Raja” masih berlaku untuk bangunan publik karena pengunjung merupakan penikmat dari bangunan tersebut. Permasalahan museum di Indonesia adalah kurang menariknya pengolahan rekreasi yang ada di museum sehingga pengunjung tidak merasa betah di dalamnya dan ingin cepat-cepat keluar dari museum. Dalam proyek museum bahari ini adalah bagaimana kita mencoba untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya kedalam museum dengan imajinasi apabila desain rancangan kita di wujudkan. Kesenangan ini juga terkait dengan inovasi museum. Museum yang monoton membuat pengunjung akan bosan di dalamnya. Namun apabila kita mengolah dengan baik maka akan terjadi sebaliknya.
Sumber:
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ved=0CDUQFjAC&url=http%3A%2F%2Fkebudayaan.kemdikbud.go.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2013%2F05%2FMUSEUMPENGAMANAN-_Brigjen-Mapparessa_Kapusjarah-POLRI.pptx&ei=JCNAUp-fFoX_rAfghIDQCg&usg=AFQjCNFhDH-GtLXXyVBVgZAPMFKQPauQSQ&sig2=fHahctNvPe_6dsHzpFdmVg&bvm=bv.52434380,d.bmk
http://www.indonesia.travel/id/destination/535/museum-bahari




